Selain kawasan Jalan Pandanaran yang terkenal
dengan "gadis" bermotor, ada ruas jalan lain di Kota Semarang yang juga
dikenal sebagai kawasan prostitusi pinggir jalan, antara lain, di Jalan
Imam Bonjol dan Jalan Tanjung, dekat dengan kawasan Stasiun Poncol.
Berbeda dengan Jalan Pandanaran yang tidak terlihat vulgar, di kawasan
ini, setiap yang lewat akan melihat para perempuan malam menjajakan diri
di pinggir jalan. Para pekerja seks komersial (PSK) itu tampak berusaha
berpakaian seksi sambil mejeng di pinggir-pinggir jalan.
Dulu, para perempuan yang terlihat sudah dewasa dengan umur antara 20
hingga lebih dari 30 tahun tersebut biasa menjajakan diri dengan berdiri
di pinggir jalan. Mereka akan menawarkan diri pada setiap lelaki yang
lewat. Sekarang, sejak beberapa tahun terakhir, mereka tampak berbeda
karena mulai mengendarai sepeda motor, yang sebagian besar berjenis
matic. PSK di sepanjang jalan ini mangkal dengan cara duduk di atas
motor.
Dengan menggunakan sepeda motor, mereka akan lebih mudah untuk lari dari
kejaran petugas saat razia. Sebab, sebelum menggunakan sepeda motor,
mereka sering terkena razia dari para petugas. Sayangnya, meski razia
dilakukan rutin, tempat ini juga tidak berubah sejak beberapa tahun
lalu, bahkan semakin ramai dengan puluhan PSK.
Di pinggir-pinggir jalan, juga terdapat banyak warung yang terkadang
digunakan para PSK untuk bertransaksi sebelum ke kamar hotel.
Namun, ada pemandangan lain di salah satu sudut jalan tersebut, ada
sejumlah lelaki bergerombol yang tampak asyik ngobrol. Mereka bukanlah
pelanggan para PSK tersebut. Ternyata sebagian besar dari mereka
merupakan suami atau pasangan dari para PSK, baik pasangan yang sah
secara hukum, pasangan karena nikah siri, maupun pasangan kumpul kebo.
Para lelaki ini tampak mengawasi para perempuannya yang tengah mencari
nafkah dengan menjual diri. Selain itu, mereka juga terkadang mencarikan
pelanggan bagi pasangannya. Parahnya, jika terlihat "tidak laku", PSK
itu bisa menjadi sasaran kemarahan dari suaminya.
Tidak segan-segan para suami ini menghajar istri mereka di depan umum.
“Dulu pernah ada yang dihajar di depan umum karena sampai malam tidak
laku, tetapi ya nggak ada yang berani melerai, itu urusan mereka. Sudah
jadi pemandangan umum di sini,” ungkap salah seorang pedagang nasi di
kawasan itu.
Sebagian besar PSK di kawasan ini sudah memiliki anak. Mereka memang
bekerja untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Mereka
kebanyakan berasal dari beberapa wilayah di sekitar Kota Semarang.
Para "kupu-kupu malam" tersebut memang biasa mengenakan baju ketat dan
seksi, tetapi untuk badan dan wajah bisa tergolong pas-pasan sehingga
tarif PSK di kawasan ini pun lebih murah dibandingkan dengan kawasan
Jalan Pandanaran. Mereka bisa memberikan pelayanan dengan tarif di bawah
Rp 200.000 untuk setiap pelanggan, sudah termasuk sewa kamar di
hotel-hotel kecil di kawasan itu.
================================================== ==
suami bejat
http://forum.detik.com/jual-diri-para-psk-itu-diantar-suami-t557188.html?df9922tpop?df9911tpil
Miris! Jual Diri, Para PSK Itu Diantar Suami
Posted by
blogger asik
at
22.52
Tags :
#Dunia Kehidupan
#Dunia Peristiwa
Related : Miris! Jual Diri, Para PSK Itu Diantar Suami
WOW Inilah Gaya ABG Ketika Belum Ada Hp dan Internet Masa-masa belum kenal internet, yang punya telpon rumah masih jarang itu juga pesawatnya model y ...
Mahasiswi Upload Gambar Intimnya,Ia Tidak Menyesal & Malah BanggaBagi mereka khususnya yang pernah kuliah di era awal tahun 2000 pasti tahu banget dengan kasus vid ...
Inilah Karlmeyer, Melodi Perusak Kejiwaan Sekarang saya akan membahas tentang suara yang sangat menarik ini. Sebelum kita membahas lebih ...
HEBAT Wanita Ukraina Lahirkan Anak ke-20 di Usia 40 Tahun Leonora Nameni KIEV - Leonora Nameni Nameni telah melahirkan anaknya yang ke-20, menjadi ibu p ...
Tak Pernah Susui Anak, Perempuan Ini Menyusui Anjing Seorang ibu asal California, Amerika Serikat (AS) tidak bisa menyusui kedua orang anaknya karena ...
Next
« Prev Post
« Prev Post
Previous
Next Post »
Next Post »